SEPITENG, SI SEPI YANG RAMAI DIPERBINCANGKAN

The Observatory Forums Landscape observatory forum SEPITENG, SI SEPI YANG RAMAI DIPERBINCANGKAN

  • This topic is empty.
Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #2432 Reply
    ruthclick50

    “Sepiteng sesuai standar ya pak,” pinta saya di dalam bahasa yang lebih merakyat, tetapi nampaknya pak imam masjid tidak cukup paham didalam mendengarnya.

    “Hah?”

    “Sepiteng pak, septic tank, tangki septik.”

    “Oh jangan khawatir, kerbau-teng pun bisa diatur itu,” ternyata pak imam masjid coba untuk bercanda, melanjutkan leluconnya berkenaan pembicaraan kita seputar pipa hawa. Dari empat orang yang datang mengulas rehab WC umum, hanya kita berdua yang tertawa. Dalam hati aku mendambakan menimpali, “rame-teng termasuk jangan lupa diatur pak.”

    Sepiteng dalam Kata dan Interaksi

    Perbincangan bersama dengan lebih dari satu tukang lokal dan warga di area Kota Jakarta dan Kabupaten Sigi sejak dua th. lantas mempunyai aku pada suatu anggapan tentang sepiteng. Sepiteng yang biasa kami dengar merujuk pada septic tank atau tangki septik, suatu teknologi pengolahan air limbah rumah tangga atau limbah domestik (air limbah kakus yang terdiri berasal dari tinja dan urin serta air limbah non kakus[1]). Pada pengaplikasiannya, sepiteng sanggup merujuk pada dua teknologi sekaligus, yakni tangki septik beserta resapannya. Dalam bentuk yang lebih sederhana, cubluk sering diartikan pula sebagai sepiteng. Lebih canggih lagi, sepiteng terhitung merujuk terhadap teknologi yang lebih kompleks dan besar kapasitasnya, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) komunal. Sepiteng raksasa biasa warga menyebutnya, yang juga dikatakan kecuali tangki septik yang dibangun diperuntukkan bagi sebagian rumah.

    Sepiteng bukanlah perihal asing di telinga kita. Setidaknya tahun lalu, sepiteng sering jadi bahan berita yang diangkat oleh banyak media. Berita sepiteng meledak dan Tanjung Duren sanggup jadi kaleidoskop di th. 2019. Kompas di dalam narasi yang berjudul Jakarta Bergelimang Tinja (2020) mengatakan bahwa persoalan tinja di Ibu Kota tak dulu absen dari halaman koran sejak 1976 sampai empat dekade berikutnya. Sepiteng begitu lekat tak berbatas, di awali berasal dari tatanan penduduk paling dasar, rekayasawan, peneliti, sampai kalangan elit di sektor pemerintahan. Kisah tersedia dan ga ada serta efek dominonya senantiasa jadi hal yang menarik diperbincangkan, tapi kala keoptimalan desain, anggaran, dan perawatan dipertanyakan, sepiteng seolah-olah jadi halangan bagi umumnya orang.

    ‘Minim’ adalah kata yang pas untuk perlihatkan interaksi antara penghuni tempat tinggal dengan sepiteng-nya. Interaksi yang bersifat operasional dan pemeliharaan sering terabaikan atau didefinisikan sebagai bentuk yang lain. Perkara sedot tinja sering jadi pembicaraan pembuka yang menarik pas berkata perihal sepiteng bersama dengan warga. Beberapa keluarga yang dulu aku temui terlebih di Jakarta tidak amat concern bersama sepiteng yang mereka punyai dikarenakan perihal sedot-menyedot-tinja ini yang nampaknya keliru kaprah. Semakin lama tidak disedot (lebih berasal dari 5 th. sebagai periode standar maksimum ideal[2]), tambah berhasil sepiteng yang dibangun dan nampaknya agak terlupakan kemudian, terkecuali jika ditemukan rintangan seperti kloset mampet akibat sepiteng yang penuh atau jalurnya yang tersumbat.

    Bentuk lain dari interaksi pada penghuni rumah bersama dengan sepiteng-nya ditemukan di Kampung Tanah Rendah. Wawancara pernah dijalankan oleh Ngebikin Bareng pada satu group warga di RW 8 Kampung Tanah Rendah, Jakarta. Suatu daerah bantaran kali di mana warganya tetap jalankan praktek BABS (Buang Air Besar Sembarangan) bersama dengan rakit atau getek sebagai MCK lazim mereka. Dengan menghilangkan tinja segera ke kali kala hari terang, toilet di rumah hanya diperlukan selagi malam agar sepiteng dapat lebih awet dan tidak cepat penuh.[3]

    Rakit atau getek sebagai MCK umum bagi warga di RW 08 Kampung Tanah Rendah, Jakarta, Minggu (18/11/18). Tanpa pengolahan, tinja maupun urin langsung masuk ke aliran Kali Ciliwung ini. Ngebikin Bareng/Gusmiati.

    Sepiteng di dalam Data, Menyelisik Kondisi Sanitasi Jakarta

    Konon katanya peradaban dimulai dan berkembang maju di sepanjang sungai. Bersama sungai yang mengalir jernih, memikirkan betapa sejuknya manusia dan alam hidup berdampingan, namun realita sungai-sungai di Jakarta kini berkata lain. Rumah-rumah enggan berdiri menghadap si kotor dan bau. Semakin berjarak rasanya manusia bersama sungai, walaupun tempat tinggal berada di bantaran kali. Pun mencoba berteman, tersedia banyak resiko tunggu di sana, misalnya saja 72,7% pencemaran akibat limbah domestik (air mandi, cuci, dapur, urin, dan tinja).[4]

    Berdasarkan information E-Monev STBM yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI (per 17 Januari 2020) diketahui bahwa 95% penduduk DKI Jakarta sudah punya akses sanitasi dan sebanyak 25 kelurahan udah terverifikasi ODF (Open Defecation Free) atau Stop BABS. Dari 11,93 juta jiwa masyarakat DKI Jakarta, 535,62 ribu penduduk diantaranya masih melaksanakan praktik BABS. Sebagaimana diatur di dalam Permenkes RI No. 3 Tahun 2014 berkenaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Stop BABS adalah kondisi dikala setiap individu di dalam suatu komunitas tidak ulang jalankan tingkah laku BABS yang berpotensi menyebarkan penyakit. Stop BABS sanggup diwujudkan melalui kesibukan yang paling sedikit terdiri atas membudayakan prilaku buang air besar yang mampu memutus rangkaian kontaminasi kotoran manusia sebagai sumber penyakit secara konsisten dan juga sediakan dan pelihara layanan membuang air besar yang mencukupi standar dan syarat-syarat kesehatan. Adapun sarana buang air besar yang dimaksud juga cubluk dan tangki septik.

    Lebih jauh berbicara berkenaan cubluk dan tangki septik, didalam Permen PUPR No. 04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, cubluk didefinisikan sebagai unit pengolahan air limbah domestik (sistem setempat) yang paling sederhana. Terdiri atas lubang yang digali secara manual bersama dengan dinding rembes air yang terbuat dari pasangan batu bata berongga. Cubluk bermanfaat sebagai area pengendapan tinja sekaligus sarana peresapan berasal dari cairan yang masuk. Persyaratan tekhnis rencana cubluk diantaranya adalah: (1) kepadatan penduduk <25 jiwa/hektar; (2) jarak minimum bersama dengan sumber air adalah 10 m; (3) ketinggian muka air tanah >2 m; (4) umur pemanfaatan 5-10 tahun; dan (5) berwujud bujur sangkar atau silinder.

    SNI 2398:2017 perihal Tata Cara Perencanaan Tangki Septik bersama Pengolahan Lanjutan mendeskripsikan tangki septik sebagai ruang kedap air, terdiri dari satu atau sebagian kompartemen yang bermanfaat menampung dan memproses air limbah tempat tinggal tangga. Kecepatan aliran yang lambat memicu terjadinya pengendapan serta penguraian secara anaerobik yang membentuk bahan-bahan larut air serta gas. Persyaratan lazim untuk tangki septik diantaranya adalah: (1) ketersediaan lahan untuk tangki septik dan pengolahan lanjutan; (2) efluen (keluaran) berasal dari tangki septik dialirkan lewat pengolahan kelanjutan yang dapat berwujud sistem penyaringan (up flow filter), bidang resapan, sumur resapan, atau taman sanita; dan juga (3) jarak minimum pengolahan lanjutan pada sumur air bersih adalah 10 m untuk sumur atau bidang resapan dan 1,5 m untuk up flow filter atau taman sanita.

    Kementerian PUPR mencatat bahwa pada th. 2018 persentase layanan air limbah domestik dengan sistem terpusat (perpipaan) di Jakarta baru capai angka 11% dari keseluruhan penduduk[5], selebihnya mengfungsikan proses setempat atau lebih-lebih belum memiliki akses sanitasi serupa sekali. Meskipun persentase akses sanitasi sebesar 95%, ada kekuatiran bahwa masih banyak warga Jakarta yang memakai cubluk atau tangki septik tidak sesuai standar, terhitung mengingat pada definisi STBM yang diberlakukan Kemenkes. Mengingat tingginya kepadatan masyarakat (158,04 jiwa/hektar terhadap th. 2018[6]) dan lahan terbatas di Jakarta, maka perihal itu sanggup menimbulkan masalah baru dan kerelevanan penggunaan tangki septik untuk warga Jakarta pun harus dipertanyakan kembali. Dengan begitu stimulan Stop BABS untuk memutus kontaminasi tinja sebagai sumber penyakit terwujud.

    Praktik sanitasi yang tidak baik seperti sepiteng rembes, pembuangan secara segera limbah non kakus ke got atau selokan, dan tak adanya akses sanitasi sebenarnya masih amat mudah dijumpai di Ibu Kota. Efek domino yang terjadi salah satunya adalah pencemaran air. Lewat parameter keseluruhan coliform yang menjadi indikasi bahwa air tercemar tinja, pencemaran air di Jakarta udah menembus angka 10.000 dari batas normal 3.000 jml/100 mL air (Permen LHK No. P.68/Menlhk-Setjen/2016 mengenai Baku Mutu Air Limbah Domestik).[7]

    Lebih detail, BPLHD Provinsi DKI Jakarta (2015) menyebutkan bahwa pencemaran air tanah Jakarta didominasi oleh pencemar mangan, besi, organik, bakteri coliform, dan bakteri tinja. Tingginya konsentrasi pencemar-pencemar selanjutnya mengindikasikan bahwa tetap banyak air tanah di Jakarta yang tercemar limbah domestik dan tangki septik. Berdasarkan penelitian yang udah ditunaikan dua kali di berbagai titik sampel pada 197 kelurahan di Jakarta, angka pencemaran coliform pada air tanah di Jakarta berada terhadap rentang 0-18.300 jml/100 mL untuk Jakarta Pusat, 0-370.000 jml/100 mL untuk Jakarta Utara, 0-24.500 jml/100 mL untuk Jakarta Timur, 0-99.000 jml/100 mL untuk Jakarta Barat, dan 0-10.900 jml/100 mL untuk Jakarta Selatan. Sementara untuk bakteri tinja berada terhadap rentang 0-4.300 jml/100 mL untuk Jakarta Pusat, 0-160.000 jml/100 mL untuk Jakarta Utara, 0-9.600 jml/100 mL untuk Jakarta Timur, 0-2.400 jml/100 mL untuk Jakarta Barat, dan 0-1.700 jml/100 mL untuk Jakarta Selatan.

    Mengeliminasi knowledge pencilan, didapat rentang kebanyakan 0-17.900 jml/100 mL untuk pencemar coliform dan 0-2.800 jml/100 mL untuk pencemar bakteri tinja. Meskipun demikian, angka pemanfaatan air tanah di Jakarta menyatakan peningkatannya sampai tahun 2019[8] dan ketergantungan warga pada air tanah sebagai sumber air minum masih tinggi, walaupun persentasenya masih berada di bawah pemakaian air kemasan yang mendominasi sumber air minum[9].

    Imbas lainnya berasal dari sanitasi tidak baik ini adalah terjadinya waterborne diseases. WHO (2015) mengartikan waterborne diseases sebagai penyakit yang ditularkan lewat mengonsumsi air terkontaminasi, layaknya diare, kolera, tifus, infeksi shigella, hepatitis A dan B, serta polio. Resiko stunting pun mampu terlihat mengingat diare mengakibatkan nutrisi di di dalam tubuh terkuras lewat buang air yang berkala.[10] Berdasarkan profil kesegaran DKI Jakarta, angka diare perlihatkan fluktuatifnya termasuk tahun 2014-2018, berada dalam rentang 2,1 juta (2014) hingga 278,7 ribu jiwa (2018) dari populasi masyarakat Jakarta.

    “Saya baik-baik aja kok, gak sakit tuh sepanjang ini,” tutur salah satu warga di dalam rembuk rencana pembangunan IPAL komunal yang saya hadiri di tahun 2018 lalu. Rembuk itu dikerjakan di suatu lokasi bantaran kali di Jakarta Timur. Warga disana tetap melakukan praktik yang tergolong BABS walau miliki toilet pribadi. Pernyataan itu kemudian menimbulkan pro-kontra, diamini oleh lebih dari satu warga yang mendukung penolakan IPAL komunal di wilayahnya. Diskusi terpanas bagi aku yang terbilang masih seumur jagung berkecimpung di dunia sanitasi.

    Saya yakin, kecuali suasana ini tetap dibiarkan, maka KLB (Kejadian Luar Biasa) terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi jelek bukanlah hal yang mengagetkan kedepannya. Dalam diskusi tadi, tak sedikit pula warga yang membela. “Saya gak sakit, namun saya memahami prilaku (sanitasi) kita gak baik dan saya rela menambahkan lingkungan yang bersih bikin anak-anak dan cucu-cucu saya kedepannya, aku senang berubah, tolong jangan menghalangi tekad baik ini,” ucap seorang ayah yang sesudah itu saya jelas beliau adalah Sekretaris RT disana. Pernyataan itu sesudah itu menjadi pemantik motivasi untuk mewujudkan pembangunan IPAL komunal, tapi kendala-kendala layaknya ketersediaan lahan, membangun pemahaman warga, birokrasi lintas sektoral, dan manajemen program menjadi tantangan yang amat besar terlebih di Ibu Kota untuk menciptakan pembangunan sanitasi berbasis masyarakat.

    Air itu dingin, namun panas.

    Nampaknya ungkapan tersebut juga berlaku untuk persoalan air limbah domestik di Jakarta.

    If you enjoyed this information and you would such as to get additional facts relating to Kontraktor WWTP kindly browse through our web site.

Viewing 1 post (of 1 total)
Reply To: SEPITENG, SI SEPI YANG RAMAI DIPERBINCANGKAN
Your information:




Comments are closed.